Jumat, 22 Maret 2013



Penggunaan Bahasa Indonesia oleh Negara Lain


Bahasa merupakan hal yang sangat penting di dalam melakukan komunikasi. Suatu bangsa akan lebih dikenal, apabila, bahasa nasionalnya menjadi salah satu bahasa yang dipergunakan oleh bangsa lain di dunia.
Walaupun yang paling efektif merubah citra adalah merubah realitas, namun peran budaya dan bahasa Indonesia dalam diplomasi sangat krusial. Tingginya minat orang asing belajar bahasa dan budaya Indonesia harus disambut positif. Kalau perlu, Indonesia menambah Pusat Kebudayaan Indonesia di sejumlah negara, guna membangun saling pengertian dan perbaikani citra.
Bahkan menurut Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Andri Hadi pada rapat pleno Kongres IX Bahasa Indonesia. Saat ini ada 45 negara yang ada mengajarkan bahasa Indonesia, seperti Australia, Amerika, Kanada, Vietnam, dan banyak negara lainnya.
Jadi untuk kepentingan diplomasi, dan menambah pengetahuan orang asing tentang bahasa Indonesia, menurut Dirjen Informasi dan Diplomasi Deplu ini, modul-modul bahasa Indonesia di internet perlu diadakan, sehingga orang bisa mengakses di mana saja dan kapan saja.
Di samping itu, keberadaan Pusat Kebudayaan Indonesia di sejumlah negara sangat membantu dan penting. Negara-negara asing gencar membangun pusat kebudayaannya, seperti China yang dalam tempo 2 tahun membangun lebih 100 pusat kebudayaan. Sedangkan bagi Indonesia, untuk menambah dan membangun Pusat Kebudayaan terkendala anggaran dan sumber daya manusia yang handal.
Dalam sesi pleno sebelumnya, Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Dendy Sugono yang berbicara tentang Politik Kebahasaan di Indonesia untuk Membentuk Insan Indonesia yang Cerdas Kompetitif di atas Fondasi Peradaban Bangsa, mengatakan, tuntutan dunia kerja masa depan memerlukan insan yang cerdas, kreatif/inovatif, dan berdaya saing, baik lokal, nasional, maupun global.
Sehingga untuk memenuhi keperluan itu, sangat diperlukan keseimbangan penguasaan bahasa ibu (bahasa daerah), bahasa Indonesia, dan bahasa asing untuk mereka yang berdaya saing global, tandasnya.
Dendy Sugono juga melukiskan, kebutuhan insan Indonesia cerdas kompetitif itu, untuk lokal meliputi kecerdasan spiritual, keterampilan, dan bahasa daerah . Untuk kebutuhan nasional meliputi kecerdasan emosional, kecakapan, dan bahasa Indonesia. Sedangkan untuk global, dibutuhkan kecerdasan intelektual, keunggulan, dan bahasa asing.
Contoh negara yang mempelajari bahasa Indonesiaadalah Australia, disana bahasa Indonesia menjadi bahasa popular keempat. Ada sekitar 500 sekolah mengajarkan bahasa Indonesia dan menawari kerja sama dengan Indonesia. Pemilihan bahasa Indonesia sebagai pelajaran utama di sana tak lepas dari faktor geografis dan historis antara Indonesia dan Australia. Bahkan, anak-anak kelas 6 sekolah dasar ada yang bisa berbahasa Indonesia.
Proses interaksi diawali menggunakan e-mail. Siswa kelas 2 hingga kelas 6 SD dari masing-masing negara dibagi menjadi beberapa kelompok. Pertama-tama mereka saling memperkenalkan diri menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara bergantian. Bahasa yang digunakan pun berjenjang, relatif mudah dipahami bagi murid kedua sekolah karena kami sebagai pihak guru mendiskusikan dahulu di awal pertemuan perihal materi yang akan siswa pelajari. 
Ini adalah fakta yang terjadi di dunia, bahwa bahasa indonesia sudah mulai diajarkan ke pelosok dunia seperti contoh di sekolah dasar di Australia yang sudah mulai diajarkan berbahasa indonesia sejak menempuh sekolah dasar. Tidak hanya di Australia, bahasa Indonesia juga dipelajari banyak warga dari Jepang, Korea, China, Amerika Serikat, Jerman, Rusia, Inggris, Meksiko, Italia, dan Uzbekistan.
Selain itu ada seorang mahasiswi Melbourne yang bernama Katrina Pemberton ia adalah mahasiswi Monash di Melbourne yang belajar Bahasa Indonesia. Saking cintanya dengan bahasa Indonesia dia pun memperdalami budaya indonesia dengan memasuki perguruan tinggi ternama di Indonesia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar